Banyak brand fashion pemula terjebak di satu dilema klasik:
kalau harga dinaikkan takut nggak laku, kalau diturunin malah nggak cuan.
Masalahnya bukan di produknya—tapi di pricing strategy yang tidak dirancang dengan benar. Dalam fashion business, harga bukan sekadar angka, tapi alat positioning, komunikasi value, dan penentu keberlanjutan brand.
Kenapa Pricing Strategy Itu Krusial di Fashion?
Pricing yang salah bisa berdampak besar:
❌ Margin tipis dan cepat tekor
❌ Brand terlihat murahan atau tidak kredibel
❌ Sulit scale produksi
❌ Konsumen hanya beli saat diskon
Sebaliknya, pricing yang tepat membantu brand:
✅ Tetap profit walau volume kecil
✅ Terlihat lebih bernilai
✅ Lebih mudah membangun loyalitas
✅ Punya ruang untuk growth
Kesalahan Umum Brand Fashion dalam Menentukan Harga
Sebelum masuk ke strategi, ini kesalahan yang sering terjadi:
- Menentukan harga berdasarkan kompetitor saja
- Menghitung harga tanpa memasukkan semua biaya
- Takut dianggap mahal
- Tidak memahami target market
- Mengandalkan diskon sebagai senjata utama
Ingat: harga murah bukan strategi, tapi keputusan sementara.
Framework Pricing Strategy untuk Brand Fashion
1. Hitung Cost Secara Menyeluruh (True Costing)
Jangan hanya menghitung biaya produksi.
Masukkan:
- Bahan & trims
- Jahit & finishing
- Sampling & revisi
- Packaging
- Marketing & operasional
- Risiko produk tidak terjual
Brand yang tidak tahu true cost akan selalu bingung saat menentukan harga.
2. Tentukan Positioning Brand Terlebih Dahulu
Harga harus sejalan dengan positioning.
Tanya diri kamu:
- Brand ini mau dipersepsikan sebagai apa?
- Affordable, mid-range, atau premium?
- Value utama di kualitas, desain, atau lifestyle?
Harga adalah sinyal pertama yang dibaca market tentang brand kamu.
3. Pahami Perceived Value, Bukan Hanya Biaya
Konsumen tidak membeli berdasarkan biaya produksi—tapi persepsi nilai.
Perceived value dipengaruhi oleh:
- Desain & siluet
- Kualitas bahan
- Fit & kenyamanan
- Story & brand image
- Pengalaman membeli
Dua produk dengan cost sama bisa punya harga jual sangat berbeda.
4. Sesuaikan Harga dengan Target Market
Harga harus masuk akal untuk market yang kamu tuju.
Brand yang sehat tahu:
- Daya beli target market
- Kebiasaan belanja mereka
- Produk pembanding yang mereka kenal
Harga terlalu murah untuk market premium = brand tidak dipercaya.
Harga terlalu mahal untuk market mass = produk tidak bergerak.
5. Bangun Margin Sehat Sejak Awal
Brand pemula sering lupa satu hal: brand harus hidup dulu sebelum besar.
Margin sehat memberi ruang untuk:
- Reinvest produksi
- Marketing yang konsisten
- Diskon terkontrol
- Scale bisnis
Bukan soal mahal atau murah—tapi cukup untuk bertahan dan bertumbuh.
6. Jangan Jadikan Diskon Sebagai Strategi Utama
Diskon yang terlalu sering akan:
❌ Merusak value brand
❌ Membiasakan konsumen nunggu promo
❌ Menekan margin
Brand yang kuat lebih fokus ke:
- Value communication
- Limited drop
- Exclusive access
- Experience, bukan potongan harga
Pricing Strategy yang Sehat = Brand yang Berumur Panjang
Brand fashion yang bertahan bukan yang paling murah, tapi yang:
- Punya value jelas
- Punya market yang tepat
- Punya perhitungan bisnis matang
- Berani pasang harga sesuai strateginya
Pricing adalah keputusan bisnis jangka panjang, bukan reaksi jangka pendek.
Untuk Kamu yang Ingin Brand Fashion Tetap Profit & Tumbuh
Kalau kamu ingin:
- Menentukan harga tanpa ragu
- Punya margin yang sehat
- Bangun brand dengan positioning jelas
- Menghindari perang harga
- Launch brand dengan perhitungan matang
👉 Fast Track to Launch Your Fashion Brand Program dari SFA membantu kamu memahami pricing strategy dari sisi bisnis, market, dan positioning brand.
Di program ini kamu akan belajar:
- Costing & pricing framework
- Brand positioning & perceived value
- Product & collection strategy
- Go-to-market plan
- Fondasi bisnis fashion yang siap scale
🚀 Harga yang tepat bukan soal murah—tapi soal strategi.